Kelompok 8
➸ Puji Astutik 201601500548
➸ Ana Kurnia 201601500534
➸ Damar Prasetio 201601500494
↜ ↝
📚 HORMAT PADA GURU 📚
A. Hormat dan Menghormati
Dalam kamus Besar Bahasa Indonsia, hormat artinya menghargai (takzim, khidmat, sopan): perbuatan yang yang menandakan rasa khidmat atau takzim (seperti menyembah, menunduk).
Menurut Januar (Permata, 2002), hormat dan menghormati adalah keinginan naluriah yang melekat pada diri manusia. Ia merupakan kebutuhan asasi setiap manusia. Tidak aka nada manusia yang merasa senang ketika orang lain merendahkannya, menghinanya, dan menyepelekannya. Sebaliknya, ia akan berusaha sekuat tenaga agar orang lain menghormatinya dan menghargainya. Malah tidak sedikit orang yang rela mati demi membela harga diri dan kehormatan. Penghormatan diberikan kepada orang lain karena ada sesuatu yang ‘lebih’ pada diri mereka.
Dalam kamus Besar Bahasa Indonsia, hormat artinya menghargai (takzim, khidmat, sopan): perbuatan yang yang menandakan rasa khidmat atau takzim (seperti menyembah, menunduk).
Menurut Januar (Permata, 2002), hormat dan menghormati adalah keinginan naluriah yang melekat pada diri manusia. Ia merupakan kebutuhan asasi setiap manusia. Tidak aka nada manusia yang merasa senang ketika orang lain merendahkannya, menghinanya, dan menyepelekannya. Sebaliknya, ia akan berusaha sekuat tenaga agar orang lain menghormatinya dan menghargainya. Malah tidak sedikit orang yang rela mati demi membela harga diri dan kehormatan. Penghormatan diberikan kepada orang lain karena ada sesuatu yang ‘lebih’ pada diri mereka.
Diantara kelebihan itu adalah:
1. Usia
Usia muda hendaknya memberikan penghormatan kepada yang lebih tua
2. Status Sosial
Orang kaya biasanya lebih dihormati
3. Pendidikan
Orang yang berpendidikan tinggi akan lebih dihormati
4. Kedudukan
Para pejabat karena kedudukannya akan dihormati oleh masyarakat
5. Kewibawaan
Seorang guru dengan kewibawaannya kan dihormati oleh siswanya
6. Kekuatan
Pada kehidupan masyarakat primitive, orang-orang terhormat bahkan para pemimpin mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan secara fisik. Biasanya jabatan kepemimpinan ditentukan.
Penghormatan dan penghargaan tidak akan datang bila kita menghormati dan menghargai diri sendiri. Bagaimana orang akan menghargai kita bila kita tidak peduli pada diri sendiri? Penampilan dibiarkan kotor, pikiran kita tidak lepas dari rasa pesimis, keluh kesah, berpikir negatif tentang diri kita dan masa deoan kita, lalu kita pun menjauh dari amal ibadah, dan tidak pernah mencintai ilmu. Mengharap orang lainmenghormati kita padahal kita melecehkan diri sendiri sama dengan seorang kaya yang menjadi peminta-minta.
Mempertahankan kehormatan adalah keharusan, tetapi gila hormat adalah sebuh ketidaklayakan. Tidak sedikit orang yang berubah menjadi bossy hanya setelah memperoleh jabatan. Sebagian orang berpendapat hal seperti itu adalah kewajaran. Bukanlah saya sudah menjadi seorang pemimpin, maka saya berhak memerintah siaoa saja menurut kehendak saya?
Nasihat lama mengatakan
“Hormatilah orang lain jika dirimu ingin dihormati”
Secara manusiawi, manusia akan mengormati orang lain jika dirinya dihormati dan dihargai. Mereka yang menghormati orang lain menunjukkan bahwa dirinya memang layak dihormati. Kehormatan dibalas kehormatan, sementara kehinaan juga berbuah hal yang sama. Bagaimana kita dapat dapat menghormati seseorang yang selalu melecehkan apalagi merendahkan derajat orang lain?
B. Siapa Guru Itu?
Pada dasarnya gambaran citra guru yang bermutu tersebut yaitu pribadi dewasa yang mempersiapkan diri secara khusus melalui lembaga pendidikan guru, agar dengan keahliannya mampu mengajar sekaligus mendidik siswanya untuk menjadi warga Negara yang baik (susila), berilmu, produktif, sosial, sehat, dan mampu berperan aktif dalam peningkatan sumber daya manusia atau investasi kemanusiaan.
C. Kondisi Guru Saat Ini
Di mata masyarakat guru merupakan sosok yang mulia dan serba bisa. Hal ini bisa kita perhatikan, orang yang berprofesi sebagai guru biasanya banyak dilibatkan di masyarakat. Apakah dalam organisasi linkungan maupun dalam setiap kegiatan.
Layaknya, memang begitulah sosok guru . Ia harus mampu menjadi contoh dalam masyarakat, yang dapat (diikuti) dan ditiru.
Guru harus mempunyai beberapa kompetensi, diantaranya adalah kompetensi kepribadian dan kompetensia sosial, yang lebih banyak diaplikasikan dalam lingkungan masyarakt.
Tapi guru juga manusia biasa yang lekat dengansifat manusiawinya. Sifat baik, begitu juga sifat buruk ada pada sosok seorang guru. Tidak sedikit oknum yang ironis dengan posisi yang seharusnya. Tentunya ini akan mencoreng profesi guru secara umum. Selayaknya hal ini harus menjadi tanggung jawab moral semua guru dalam menjaga nama baik guru.
D. Kondisi Siswa Saat ini
Apa yang dilakukan oleh guru, akan selalu diperhatikan oleh siswanya. Bahkan ada yang mengikuti apa yang dilakukan oleh gurunya. Ini akan baik, jika yang ditirunya adalah hal-hal yang positif, misalnya kebiasaan membaca, kebiasaan disiplin, dan lain-lain. Celakanya jika yang diikutinya adalah hal-hal yang negatif, misalnya kebiasaan merokok atau kebiasaan datang terlambat, dan lain-lain. Pepatah mengatakan “Guru kencing berdiri, siswa kencing berlari”.
Apa yang dilakukan oleh guru, akan selalu diperhatikan oleh siswanya. Bahkan ada yang mengikuti apa yang dilakukan oleh gurunya. Ini akan baik, jika yang ditirunya adalah hal-hal yang positif, misalnya kebiasaan membaca, kebiasaan disiplin, dan lain-lain. Celakanya jika yang diikutinya adalah hal-hal yang negatif, misalnya kebiasaan merokok atau kebiasaan datang terlambat, dan lain-lain. Pepatah mengatakan “Guru kencing berdiri, siswa kencing berlari”.
Siswa sekarang ini sudah lebih kritis. Mereka akan bereaksi ketika ada hal-hal yang ganjil. Hal itu dapat kita lihat ketika beberapa siswa mengadakan demonstrasi. Saat ini jika ada sesuatu kejadian yang menimpa siswa yang dilakukan oleh oknum guru, siswa tidak segan-segan untuk melaporkannya. Tidak jarang kita menyaksikan ada oknum guru yang harus mendekam di dalam jeruji besi karena melakukan pelanggaran hukum.
1. Faktor internal
Faktor internal guru diantaranya adalah sikap dari guru itu sendiri yang tidak layak dihormati. Guru yang galak, terlalu dekat dengan siswa, biasanya kurang dihormati oleh siswanya. Demikian pula perilaku-perilaku guru yang dipandang negatif oleh siwa, yang membuat siswa kurang simpatik terhadap guru tersebut.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal di sini maksudnya adalah siswa. Bagi sisiwa yang tidak peduli akan kehadiran guru, maka ia tidak akan menghiraukan meskipun guru lewat di depannya. Ia menganggap bahwa guru manusia biasa, untuk apa dihormati. Padahal bentuk penghormatan tidak harus menghormati seperti pada upacara bendera. Cukup menyapa tau senyum kecil, guru sudah menganggap itu sebuah penghormatan yang menyenangkan.
Akhir-akhir ini santer berita ada guru membantu peserta ujian dalam menjawab soal, apakah dia sebagai tim sukses sekolah di bawah perintah atau koordinasi kepala sekolah atau tidak, akibatnya guru akan dilecehkan. Siswa malas belajar, karena berpikiran nanti pasti lulus dibantu atau sekolah. pada akhirnya pelajaran yang disampaikan guru kurang diperhatikan.
F. Upaya Meningkatkan Akhlak Hormat pada Guru
Dalam upaya memberikan pegetian kepada siswa tentang hormat pada guru ini seharusnya diberikan pada siswa melalui pembelajaran. Siswa harus selalu diingatkan, terutama pada pelajaran agama.
Karena bagaimanapun juga guru merupakan sosok penting dalam proses pembelajaran. Kehadiran seorang guru hendaknya menjadi suatu kebutuhan bagi siswa. Dapat dikatakan siswa yang tidak tahu diri, apabila rasa hormat pada gurunya sudah hilang. Tetapi dalam hal ini gurupun harus mampu menjaga kewibawaan dengan memberikan contoh teladan yang baik pada siswa.
Daftar pustaka:
Mulyawati, dkk. (2010). Pembelajaran Studi Sosial. Bandung: Alfabeta.
↜ ↝
Daftar pustaka:
Mulyawati, dkk. (2010). Pembelajaran Studi Sosial. Bandung: Alfabeta.



Comments
Post a Comment